Deskripsi Publikasi
Sebuah bentuk cangkang pada batu dapat membuka banyak pertanyaan tentang kehidupan masa lampau. Jejak Kehidupan dalam Batu mengajak anak mengikuti Lila dan Bimo memperhatikan fosil, lapisan batuan, dan tempat ditemukannya sebuah jejak. Pembaca belajar bahwa bentuk yang terlihat tidak langsung menceritakan seluruh kehidupan makhluk yang pernah ada. Buku sains bergambar ini mengenalkan cara menyusun penjelasan dari bukti sambil membedakan apa yang benar-benar tampak dengan bagian cerita yang masih memerlukan pemeriksaan.
Dalam seri ketujuh belas Jelajah Alam Nusantara, sisa tubuh, jejak kegiatan, serta urutan lapisan digunakan untuk memulai pembelajaran tentang fosil. Bentuk cangkang atau daun dapat memberi petunjuk yang berbeda dari sebuah tapak. Posisi lapisan dan catatan lokasi membantu memberikan konteks, sehingga pembaca tidak menebak umur atau cerita hanya dari warna batu. Model kegiatan dijelaskan sebagai alat belajar, bukan potongan lapisan dari situs nyata. Jurnal penjelajah mendorong anak menyebut bukti dan mengakui batas pengetahuannya.
Bacaan karya Tim Baca Gratis dan terbitan Yayasan Mengeja Indonesia ini dapat mendampingi pengayaan sains tentang fosil, geologi, dan penalaran ilmiah. Keluarga serta guru dapat memakainya saat membicarakan benda di museum, gambar fosil, atau model lapisan yang aman untuk belajar. Kaitan dengan SDG 4 didasarkan pada latihan membaca bukti, membandingkan konteks, dan menyampaikan penjelasan secara jujur. Melalui pembacaan konteks temuan, anak memperoleh bekal untuk memahami bagaimana pengetahuan tentang masa lampau dibangun, diperiksa, dan diperbaiki ketika petunjuk baru ditemukan.
Dasar keterkaitan SDGs
SDG 4: Fosil, konteks lapisan, dan pembedaan pengamatan dari dugaan merupakan latihan penalaran berbasis bukti. Pemetaan editorial berdasarkan isi PDF; tidak menyatakan sertifikasi atau dampak terukur.
Ikon SDGs © Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penggunaan ikon tidak menyatakan dukungan PBB.