Deskripsi Publikasi
Ketika air pasang datang dan surut pergi, kehidupan di tepi muara ikut berubah. Akar Bakau di Antara Dua Dunia mengajak anak mengikuti bentuk akar, garis air, dan jejak satwa untuk memahami tumbuhan mangrove. Pembaca melihat bahwa lumpur yang terbuka dan akar yang terendam merupakan bagian dari lingkungan yang sama pada waktu berbeda. Melalui cerita dan ilustrasi, buku ini membantu anak menghubungkan bentuk tumbuhan dengan tantangan hidup di kawasan pesisir yang dipengaruhi pasang surut.
Dalam seri kedelapan Jelajah Alam Nusantara, Lila dan Bimo mengamati kepiting, tembakul, ikan kecil, serta ruang di antara akar. Penjelasan membedakan penyesuaian berbagai tumbuhan mangrove: akar tunjang dan akar napas tidak diperlakukan sebagai ciri yang dimiliki setiap jenis. Pembaca diajak memperhatikan bentuk akar, perubahan tinggi air, dan waktu pengamatan sebelum menyusun jawaban. Jurnal penjelajah pesisir mendorong pencatatan temuan dari gambar atau jalur aman bersama pendamping, tanpa memasuki lumpur dan air pasang.
Buku karya Tim Baca Gratis yang diterbitkan Yayasan Mengeja Indonesia ini dapat mendampingi pengayaan tentang mangrove, adaptasi tumbuhan, dan ekosistem pesisir. Keluarga serta guru dapat memakainya untuk mengembangkan pertanyaan tentang hubungan makhluk hidup dengan perubahan lingkungan. Muatan belajar melalui gambar dan bukti berkaitan dengan SDG 4. Pembahasan pesisir sebagai ruang hidup ikan dan satwa lain relevan dengan SDG 14, sementara tumbuhan mangrove dan kebutuhan perlindungan habitat juga menghubungkannya dengan SDG 15.
Dasar keterkaitan SDGs
SDG 4: Pembacaan penyesuaian akar dan perbandingan tinggi air mendukung literasi sains. SDG 14: Habitat pesisir dan hubungan kehidupan di daerah pasang surut dibahas langsung. SDG 15: Mangrove dipelajari sebagai vegetasi dan habitat yang perlu dijaga. Pemetaan editorial berdasarkan isi PDF; tidak menyatakan sertifikasi atau dampak terukur.
Ikon SDGs © Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penggunaan ikon tidak menyatakan dukungan PBB.